PLUTO yang juga dikenal dengan nama Pluto 134340 adalah sebuah planet kerdil dalam sistem Tata Surya Bimasakti. Letak Pluto berada dalam sebuah wilayah terluar Tata Surya yang bernama Sabuk Kuiper. Sabuk Kuiper sendiri adalah sebutan untuk wilayah di luar orbit planet Neptunus hingga jarak 50 Satuan Astronomi (SA/1 Satuan Astronomi = jarak rata-rata Matahari-Bumi, yakni sekitar 149,6 juta kilometer) dari Matahari. Pluto memiliki orbit yang unik saat mengelilingi matahari, orbitnya berbentuk melonjong dan kisaran jaraknya sekitar 4,4 - 7,4 miliar km dari Matahari. Berbeda dengan planet-planet lainnya di Tata Surya, Pluto cenderung bergerak mendekati Matahari saat melakukan perjalanan orbit. Akibatnya, terkadang Pluto berjarak lebih dekat dengan Matahari (atau Bumi) daripada Neptunus.
Di antara obyek-obyek yang ada dalam Tata Surya, Pluto adalah yang terkecil baik dalam ukuran maupun jumlah masa. Pluto bahkan lebih kecil daripada 7 bulan di tata surya, (Bulan, Io, Europa, Ganymede, Calisto, Titan, dan Triton). Pluto memiliki diameter 4.862 km dan memiliki massa 0,002 massa Bumi. Periode rotasi Pluto adalah 6,39 hari, sedangkan periode revolusi adalah 248,4 tahun. Bentuk Pluto mirip dengan Bulan dengan atmosfer yang mengandung metan. Suhu permukaan Pluto berkisar -233o Celsius sampai dengan-223o Celsius, sehingga sebagian besar berwujud es. Seperti sejumlah planet Tata Surya lain, Pluto juga mempunyai beberapa bulan/satelit yang mengitarinya. Bulan-bulan itu adalah: Charon (ditemukan oleh astronom James Christy pada tahun 1978), Nix dan Hydra (keduanya ditemukan pada tahun 2005)
Penemuan Pluto
Proses penemuan Pluto sebenarnya diawali dengan kekeliruan interpretasi sejumlah astronom yang mendapati adanya kekacauan dalam orbit Uranus. Semula mereka berasumsi bahwa Neptunuslah yang mengacaukan orbit Uranus karena tarikan gravitasinya. Di akhir abad 19, setelah melakukan observasi lanjutan, para astronom berpendapat bahwa ada planet lain selain Neptunus yang mengganggu orbit Uranus.
Pada tahun 1905 seorang astronom AS, Percival Lowell, memulai proyek pencarian planet ke-sembilan dalam sistem Tata Surya. Lowell bersama rekannya, William H. Pickering, mengajukan beberapa konsep koordinat planet ke-sembilan dalam Tata Surya yang mereka namakan “Planet X”. Lowell meninggal pada tahun 1916, akan tetapi proyek pencariannya tetap dilanjutkan. Nama Lowell diabadikan sebagai nama observatorium yang didirikannya pada tahun 1894.
Pada bulan Januari 1930, Clyde Tombaugh, seorang peneliti yang juga anggota tim proyek pencarian planet ke-sembilan dalam Tata Surya di Observatorium Lowell, berhasil mencitrakan beberapa pergerakan sebuah obyek misterius di luar angkasa. Tim peneliti dalam proyek tersebut berkesimpulan bahwa obyek luar angkasa itu adalah sebuah planet dan untuk memastikannya mereka kemudian mengirim hasil pencitraan obyek luar angkasa itu ke Observatorium Harvard College untuk diteliti lebih lanjut.
Setelah dipastikan bahwa obyek yang ditemukan itu adalah sebuah planet, Tombaugh dan ketua tim peneliti, Vesto Melvin Slipher, menggelar sayembara untuk mencarikan nama bagi planet ke-sembilan itu. Nama Pluto dicetuskan oleh Venetia Burney, seorang anak perempuan umur sebelas tahun asal Oxford, Inggris. Venetia yang gemar mempelajari mitologi Yunani Kuno dan astronomi pertama kali mengusulkan nama ini pada kakeknya, Falconer Madan, mantan pustakawan di Universitas Oxford, Inggris. Madan kemudian meneruskan usul cucunya ini pada Profesor Herbert Hall Turner yang kemudian meneruskannya lagi pada rekan-rekannya di Amerika.
Setelah melalui proses penyeleksian, pada 24 Maret 1930, tim peneliti di Observatorium Lowell berembuk untuk menentukan mana di antara 3 nama berikut yang akan dijadikan nama planet baru itu yaitu: “Minerva”, “Cronus”, dan “Pluto”. Akhirnya, pada 1 Mei 1930, tim memutuskan nama planet baru itu adalah “Pluto”.
Eksplorasi ke Pluto
Sejauh ini eksplorasi ke Pluto menjadi tantangan besar bagi sejumlah negara adikuasa yang telah memiliki pesawat ulang-alik luar angkasa. Bukan hanya karena Pluto berjarak sangat jauh dari bumi namun juga karena Pluto hanya memiliki massa yang kecil dan suhunya sangat dingin. Hingga penghujung abad 20 belum ada upaya serius dari negara-negara adikuasa untuk melakukan misi perjalanan ke Pluto. Bahkan di tahun 2000, Badan Antariksa AS (NASA) membatalkan misi Pluto Kuiper Express karena alasan dana.
Namun setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya misi perjalanan ke Pluto dicanangkan kembali oleh pemerintah AS pada 2003. Misi perjalanan yang menggunakan pesawat tanpa awak ini diberi nama “New Horizons”. New Horizons telah sukses diluncurkan pada tanggal 19 Januari 2006. Pesawat ini dilengkapi dengan sejumlah peralatan kendali jarak jauh untuk mengenali citra geologi dan morfologi Pluto bersama satelitnya, Charon, memetakan komposisi permukaannya, dan menganalisa atmosfirnya. Selain itu juga New Horizons akan memotret permukaan Pluto dan Charon. Uniknya, dalam pesawat canggih ini juga disertakan abu jenazah sang penemu Pluto, Clyde Tombaugh (meninggal tahun 1997). Sayangnya, New Horizons diperkirakan baru akan mendekati orbit Pluto nanti pada tahun 2015. Setelah itu, barulah para ilmuwan NASA bisa mengungkap lebih jauh tentang misteri planet ‘mungil’ ini.
Pluto bukan planet?
Bagaimanapun, sejak tahun 2006 Pluto sudah tidak lagi dikategorikan sebagai planet inti dalam sistem Tata Surya oleh Himpunan Astronomi Internasional (IAU). Karena sejak penemuannya pada tahun 1930 hingga pada 2006 telah ditemukan sejumlah obyek lain di bagian terluar Tata Surya yang komposisinya serupa dengan Pluto, salah satunya yaitu Eris yang mempunyai massa 27% lebih padat daripada Pluto. Pluto kini hanya digolongkan dalam planet-planet minor atau kerdil (dwarf planet) bersama dengan Eris dan Ceres dan diberi nomor 134340.
Sabtu, 01 Oktober 2011
Fakta-fakta Menarik Tentang Pluto
Label:
planet minor,
pluto,
trans-neptunian object
Kepler-19c, Dunia Baru Yang Tak Terlihat
Apa jadinya kalau kita terlambat hanya 5 menit ? Bisa jadi kita sudah ditinggal pergi atau tidak lagi mendapatkan tiket pertunjukkan atau malah kehilangan pekerjaan. Akhirnya hanya sesal yang tersisa. Tapi kalau planet terlambat melintas 5 menit saja bukannya penyesalan yang di dapat, tapi justru membuat para astronom bahagia karena ia mengindikasikan ada sesuatu yang membuat dia terlambat datang. Artinya lagi… kemungkinan ada planet lain di dekatnya.
Planet Yang Tersembunyi
Itulah yang terjadi dengan planet yang sedang diamati Kepler. Planet ini kadang datang terlambat atau malah terlalu cepat karena ada “dunia tak terlihat” yang mengganggu dirinya. Inilah planet tak terlihat pertama yang dideteksi dengan cara ini. Belum pernah ada teknik pengamatan extrasolar planet lainnya yang bisa menemukan pasangan tak terlihat sebelumnya.
Itulah yang terjadi dengan planet yang sedang diamati Kepler. Planet ini kadang datang terlambat atau malah terlalu cepat karena ada “dunia tak terlihat” yang mengganggu dirinya. Inilah planet tak terlihat pertama yang dideteksi dengan cara ini. Belum pernah ada teknik pengamatan extrasolar planet lainnya yang bisa menemukan pasangan tak terlihat sebelumnya.
Ilustrasi exoplanet Kepler-19c. Kredit : David A. Aguilar (CfA)
Planet yang tidak tampak ini sepertinya memang ingin juga untuk bisa dikenal oleh pengamat di Bumi. Ia memperkenalkan dirinya dengan cara yang cukup menarik yaitu dengan mempengaruhi planet yang sedang diamati. Seperti seseorang yang iseng untuk membunyikan bel di depan pintu dan menghilang. Dan si pemilik rumah meskipun tak menemukan siapapun di depan pintu ia tau pasti seseorang ada disana.
Kedua exoplanet baik yang tampak maupun yang tidak tampak tersebut bergerak mengelilingi bintang serupa Matahari yang dinamai Kepler-19. Bintang ini berada 650 tahun cahaya dari Bumi di rasi Lyra dan ia bisa nampak dari teleskop yang digunakan oleh astronom amatir karena kecerlangan bintangnya “hanya” 12 magnitudo. Kepler-19 bisa dilihat di malam bulan September.
Kepler dalam pekerjaannya mendeteksi planet dengan melihat bintang yang kecerlangannya berkedip atau pada suatu waktu “sedikit lebih redup” ketika ada planet yang lewat di antara bintang dan pengamat. Dengan mengamati peristiwa transit, planet yang ditemukan juga bisa dketahui ukuran fisiknya. Karena semakin besar kedipan yang dibuat pada cahaya si bintang maka semakin besar pula si planet relatif terhadap bintang. Tapi untuk bisa melihat peristiwa transit, bintang dan planet harus berada pada satu garis dari arah pandang pengamat.
Kepler-19b & Kepler-19c
Planet pertama di sistem ini, Kepler-19b akan melintas di depan bintang induknya setiap 9 hari dan 7 jam dari jarak 13,5 juta km. Dari jarak yang bahkan lebih dekat dari jarak Matahari – Merkurius, Kepler-19b tentunya mengalami pemanasan dan temperaturnya pun mencapai 482 ºC. Dan bila dibanding dengan Bumi, ukuran Kepler-19b 28.968 km atau 2 kali lebih sedikit dari ukuran Bumi. Bisa dibilang planet Kepler-19b tergolong planet neptunus mini untuk ukuran namun sayangnya para astronom masih belum mengetahui massa dan komposisi si planet.
Planet pertama di sistem ini, Kepler-19b akan melintas di depan bintang induknya setiap 9 hari dan 7 jam dari jarak 13,5 juta km. Dari jarak yang bahkan lebih dekat dari jarak Matahari – Merkurius, Kepler-19b tentunya mengalami pemanasan dan temperaturnya pun mencapai 482 ºC. Dan bila dibanding dengan Bumi, ukuran Kepler-19b 28.968 km atau 2 kali lebih sedikit dari ukuran Bumi. Bisa dibilang planet Kepler-19b tergolong planet neptunus mini untuk ukuran namun sayangnya para astronom masih belum mengetahui massa dan komposisi si planet.
Ketika sebuah planet mengitari bintangnya ia tidak pernah terlambat seperti gerak jam. Ia akan berada di posisi yang sama yang dilihat pengamat tepat setelah 1 putaran ia jalani. Tapi yang terjadi, planet ini tidak tepat waktu. Kadang 5 menit lebih cepat namun ada saatnya 5 menit lebih lambat. Perubahan waktu transit seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan, karena hal itu bisa terjadi kalau ada gravitasi benda lain yang mengganggu Kepler-19b menyebabkan ia semakin cepat atau malah melambat.
Dari sejarah penemuan planet, Neptunus memiliki kemiripan saat ditemukan. Pada saat Uranus ditemukan, astronom melihat ada ketidakcocokan dalam orbit yang seharusnya dimiliki Neptunus. Saat itu mereka menyadari ada planet lain yang lebih jauh yang mengganggu orbit Uranus. Setelah dihitung ditemukanlah planet yang tidak terlihat itu. Dan kemudian ketika teleskop diarahkan ke langit pada area prediksi keberadaan planet ke-8, Neptunus memang ada disana. Metode yang sama masih menjanjikan untuk digunakan dalam mencari planet-planet yang tak terlihat di masa kini yang tentunya dibantu oleh hasil pengamatan. Dalam hal ini untuk melihat gangguan yang ia timbulkan pada planet yang bisa diamati.
Lantas seperti apakah si pengganggu planet Kepler-19b? Astronom masih belum bisa mengetahui apapun tetang planet yang tidak tampak itu selain keberadaannya. Planet ini terlalu kecil untuk bisa mengganggu bintang induknya sehingga para pengamat bisa mengetahui massanya. Selain itu Kepler juga belum melihat planet asing ini melintas di depan bintang induknya. Artinya, ada kemungkinan orbit si planet memiliki kemiringan relatif terhadap Kepler-19b.
Kepler-19c atau planet kedua di bintang Kepler-19 saat ini memiliki beberapa kepribadian. Ia diduga merupakan planet batuan dengan orbit sirkular dimana ia memiliki periode orbit 5 hari atau bisa juga ia merupakan planet gas raksasa dengan periode orbit 100 hari. Kepler akan terus memantau Kepler-19 dalam misinya. Selain itu pengamatan menggunakan instrumen HARPS-North diharapkan dapat mengetahui massa Kepler-19c.
Status Exoplanet Fomalhaut b Diragukan
Penemuan planet-planet baru terus bertambah dan ada juga yang masih menunggu konfirmasi keberadaannya. Kebanyakan planet-planet tersebut tidak dilihat langsung melainkan ditemukan dari berbagai metode tidak langsung. Jadinya jika ada satu yang statusnya meragukan tidak akan menjadi masalah. Berbeda dengan exoplanet Fomalhaut b.
Apa bedanya ?
Apa bedanya ?
Fomalhaut b
Ilustrasi planet Fomalhaut b. Kredit : ESA, NASA, and L. Calcada (ESO for STScI)
Exoplanet Fomalhaut b memiiki kisah yang berbeda ketika ditemukan. Ia adalah planet pertama yang ditemukan dari pengamatan langsung pada panang gelombang tampak di tahun 2008. Planet tersebut tampak sebagai titik yang sedang mengitari bintang Fomalhaut yang berjarak 7,7 parsek dari Tata Surya. Ia mengitari bintang Fomalhaut yang berusia 200 juta tahun setiap 872 tahun.
Yang jadi masalah adalah identitas Fomalhaut b ini dipertanyakan setelah data yang dipaparkan dalam konferensi exoplanet di Grand Teton National Park, Wyoming, menunjukkan kalau obyek Fomalhaut b itu sudah pindah dengan cara yang mengejutkan.
Fomalhaut b merupakan satu-satunya exoplanet yang bisa dipotret secara langsung. Dua citra planet Fomalhaut b yang diambil oleh Teleskop Hubble pada tahun 2004 dan 2006 digunakan untuk menunjukkan bagaimana Fomalhaut b bergerak pada orbit yang berada tepat di dalam cincin debu terang yang mengelilingi Fomalhaut. Implikasinya gravitasi planet membantu untuk menyapu bersih debu yang lebih dekat dari cincin sehingga membentuk bagian dalam cincin jadi tajam.
Menurut Paul Kalas, astronom dari University of California, Barkeley, citra terakhir Fomalhaut b menunjukkan kalau orbit planet ini melintas ke dalam piringan debu. Kejanggalan orbit itulah yang membuat Ray Jayawardhana dari University of Toronto mempertanyakan keberadaan planet Fomalhaut b. Dengan lintasan seperti itu, pengaruh gravitasi planet akan mengganggu piringan yang tadinya tampak jelas.
Kontroversi Yang Muncul
Data terakhir itu memang membingungkan namun Kalas masih yakin kalau Fomalhaut b merupakan sebuah planet. Perdebatan pun muncul mengenai status Fomalhaut b.
Data terakhir itu memang membingungkan namun Kalas masih yakin kalau Fomalhaut b merupakan sebuah planet. Perdebatan pun muncul mengenai status Fomalhaut b.
Fomalhaut b sudah dikenal sebagai bola aneh di antara exoplanet. Kecerlangannya terllau cerlang dalam cahaya tampak untuk sebuah benda yang hanya dperkirakan beberapa kali Jupiter. Selain itu pengamatan lanjutan dengan teleskop landas bumi pada panjang gelombang inframerah tidak membuahkan hasil. Padahal itu merupakan bagian dari spektrum dimana planet yang masih muda dan panas seharusnya tempak sangat cerlang.
Cincin debu di sekitar Fomalhaut yang dipotret Hubble. Kredit : NASA, ESA, P. Kalas, J. Graham, M. Clampin
Mengapa ini bisa terjadi? Kalas memberi penjelasan kalau sistem Fomalhaut jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya sehingga ia lebih dingin dan lebih redup pada panjang gelombang inframerah. Selain itu kecerlangan optik yang berlebihan dapat juga dijelaskan jika planet dikelilingi oleh material yang terang, seperti halnya Saturnus yang dikelilingi sistem cincin yang meningkatkan kemampuan untuk memantulkan cahaya.
Di sisi lain, Ray Jayawardhana justru meyakini bahwa exoplanet ini harusnya tidak lagi disebut planet yang dideteksi lewat pencitraan secara langsung karena cahaya yang diterima itu datangnya dari debu dan bukan permukaan planet.
Data terbaru yang juga menunjukan orbit exoplanet yang memotong piringan debu menjadi misteri baru bagi para penemunya. Meski demikian, Kalas masih meyakini kalau ada masalah lain degan citra terakhir yang diambil. Foto-foto di tahun 2004 dan 2006 diambil menggunakan saluran beresolusi tinggi Hubble’s Advanced Camera for Surveys. Kamera ini mengalami kerusakan pada tahun 2007 dan tidak diperbaiki saat kamera dinyalakan kembali pada tahun 2009.
Citra terakhir diambil menggunakan instrumen lainnya dari Hubble yakni Space Telescope Imaging Spectrograph. Menurut Kalas, pergantian instrumen bisa menjadi alasan mengapa ada deviasi planet dari posisi yang diharapkan. Untuk itu, Kalas akan melakukan pemotretan lagi dengan instrumen yang sama pada musim panas berikutnya.
Jika gerak planet yang tidak diharapkan itu tetap berlangsung, masih ada kemungkinan untuk menjelaskan mengapa piringan di sekitar bintang tidak terganggu. Bisa jadi exoplanet Fomalhaut b yang mereka amati sedang berada dalam ketidakstabilan dinamis dalam sistem bintangnya.
Persaingan Yang Berlanjut
Christian Marois dari Herzberg Institute of Astrophysics di Victoria, Canada tidak menyukai adanya argumentasi yang hanya berbasiskan kebetulan. Dengan periode orbit sekitar 800 tahun, Fomalhaut b seharusnya sudah mengalami perubahan orbit baru-baru ini.
Christian Marois dari Herzberg Institute of Astrophysics di Victoria, Canada tidak menyukai adanya argumentasi yang hanya berbasiskan kebetulan. Dengan periode orbit sekitar 800 tahun, Fomalhaut b seharusnya sudah mengalami perubahan orbit baru-baru ini.
Bagi Marois, Kalas sepertinya “menyesuaikan” analisanya mengacu pada perbedaan instrumen yang ia gunakan di Hubble dan mengindikasikan kalau orbit planet Fomalhaut b tidak berubah. Apapun itu, fakta kalau Kalas melihat keberadaan Fomalhaut b pada tahun 2010 “sudah merupakan konfirmasi kalau planet itu memang ada disana”.
Tapi tampaknya perdebatan sekaligus persaingan di antara Kalas dan Jayawardhana terus berlangsung. Pada tanggal 22 September, situs exoplanet,eu menambahkan komentar kalau Fomalhaut b saat ini sedang diperdebatkan keberadaannya. Hal ini tampaknya membuat Kalas kemudian megirimkan surat elektronik pada Jean Schneider pengelola situs tersebut kalau ia juga harus menyebutkan bahwa ada keraguan akan keberadaan 1RXJ1609.
Exoplanet 1RXJ1609 merupakan planet yang dipotret secara langsung pada panjang gelombang inframerah dimana Ray Jayawardhana juga menjadi salah satu penemunya dan diumumkan tahun 2008 beberapa bulan sebelum Fomalhaut b diumumkan.
Apapun itu, tampaknya Fomalhaut b lebih tahu apa yang ia lakukan meskipun tidak ada seorang pun yang tahu.
Jumat, 30 September 2011
Nama-Nama Indonesia pun Tertera di Angkasa
Planet minor adalah istilah yang digunakan untuk obyek langit non planet atau komet yang mengitari Matahari. Planet minor pertama yang ditemukan adalah Ceres pada tahun 1801 yang kemudian dikenal juga sebagai planet katai setelah IAU melakukan redenefinisi terhadap klasifikasi planet di tahun 2006.
Sampai dengan Desember 2010, sudah 257.455 planet minor yang sudah diberi nomor identifikasi / kodifikasi dari 535000 lebih planet minor yang sudah ditemukan. Dan dari 257.455 planet minor itu baru sekitar 16154 planet minor yang sudah memiliki nama resmi. Di antara ribuan nama tersebut, beberapa di antaranya memiliki nama Indonesia, yang diberikan sebagai penghargaan ataupun pengingat akan suatu tempat dan kejadian.
Nama Asteroid Berdasarkan Nama Mantan Kepala Observatorium Bosscha
Yang terbaru, pada bulan November 2010, IAU memberikan 4 nama Indonesia sebagai nama 4 asteroid yang berada di Sabuk Utama Asteroid. Keempat nama tersebut merupakan nama-nama mantan kepala Observatorium Bosscha yang diberikan oleh IAU sebagai penghargaan kepada Observatorium Bosscha yang merupakan observatorium di Indonesia sekaligus yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan astronomi di langit selatan.
Keempat nama tersebut diberikan pada 4 asteroid yang ditemukan oleh suami istri Cornelis Johannes van Houten dan Ingrid van Houten-Groeneveld yang melakukan analisa dari plat fotografi yang diambil oleh Tom Gehrels tanggal 16 Oktober 1977 dalam Palomar – Leiden Trojan Survey. Penemuan asteroid – asteroid tersebut dilakukan dengan menggunakan teleskop Schmidt 122cm di Observatorium Palomar. Dalam pengamatan tersebut, pemotretan dilakukan dengan menggunakan 68 plat untuk melakukan survei trojan di antara Mars- Jupiter. Di antara planet minor yang ditemukan, 4 asteroid yang diberi nama berdasarkan nama mantan kepala Observatorium Bosscha adalah :
12176 Hidayat / 3468 T-3
Bambang Hidayat promotor astronomi di Indonesia. Ia dikenal dalam pekerjaannya di bidang bintang ganda tampak dan bintang dengan garis emisi H. Ia juga menjadi direktur Observatorium Bosscha di Lembang dari 1968 – 1999 dan menjadi Wakil Presiden IAU dari 1994 – 2000.12177 Raharto / 4074 T-3.
Diambil dari nama Moedji Raharto, seorang astronom Indonesia sekaligus dosen senior di Astronomi ITB. Ia pernah menjabat sebagai kepala Observatorium Bosscha dari tahun 1999 – 2004. Moedji bekerja dalam bidang Struktur Galaksi berdasarkan katalog Hipparcos dan IRAS-Point Source catalogue.12178 Dhani / 4304 T-3
Diambil dari nama astronom dan ahli Fisika Matahari Indonesia Dhani Herdiwijaya yang juga pernah menjabat sebagai direktur Observatorium Bosscha pada tahun 2004- -2006. Ia dikenal dengan pekerjaannya dalam hal bintang ganda, aktivitas magnetik Matahari dan kaitannya dengan cuaca dan iklim.12179 Taufiq / 5030 T-3
Dinamakan berdasarkan nama Taufiq Hidayat yang pernah menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha pada tahun 2006 – 2010. ia dikenal untuk pekerjaannya dalam bidang Tata Surya dan transit Extrasolar serta aktif menentang efek urbanisasi di sekeliling Observatorium Bosscha. Atau dengan kata lain problematika pembangunan di sekeliling Bosscha yang mengancam keberadaan Bosscha sebagai observatorium penelitian.
Selain ke-4 nama tersebut, sebelumnya sudah ada beberapa nama mantan kepala Bosscha yang juga diabadikan sebagai nama asteroid yakni :
2019 van Albada / 1935 SX1
Asteroid ini ditemukan tanggal 28 September 1935 oleh H. van Gent seorang astronom Belanda yang melakukan pengamatan dari Leiden Southern Station dan the Union Observatory di Johannesburg Afrika Selatan. Dinamakan berdasarkan nama Gale Bruno van Albada yang menjadi kepala Observatorium Bosscha pada bulan Mei 1949 s.d Juli 1958. Van Albada sendiri merupakan perintis pendidikan astronomi di Indonesia dan diangkat sebagai guru besar astronomi ITB pada tahun 1951.
5408 Thé / 1232 T-1
Dianamakan berdasarkan nama Thé Pik Sin, yang menjabat sebagai kepala Observatorium Bosscha dari 1959 -1968. Asteroid ini ditemukan oleh Cornelis Johannes van Houten, Ingrid van Houten-Groeneveld dan, Tom Gehrels pada 25 Maret 1971 dari pengamatan di Observatorium Palomar. Nama Thé diberikan sebagai penghargaan pada Thé Pik Sin pada ulang tahunnya yang ke-65.
Nama Asteroid Berdasarkan Kontribusi dari dan untuk Astronomi Indonesia
Selain nama-nama tersebut ada beberapa nama yang juga diberikan oleh IAU pada nama planet minor sebagai penghargaan atas kontribusi mereka dalam astronomi dari Hindia Belanda atau Indonesia, yakni :
5494 Johanmohr / 1933 UM1
Ditemukan pada tahun 1933 oleh Karl Wilhelm Reinmuth di Heidelberg dan diberi nama johanmohr sebagai penghargaan atas kesuksesan kontribusi Pendeta Johan Maurits Mohr (1716-1775) dalam pengamatan astronomi dan meteorologi. Termasuk di dalamnya pengamatan okultasi Venus di Batavia pada tahun 1761 dan 1769 dari observatorium pribadinya di Molenvliet, Batavia, Hindia Belanda (sekarang Indonesia).2378 Pannekoek / 1935CY
Dinamakan beradasarkan nama astronom Belanda Antonie Pannekoek dan ditemukan oleh H. van Gent tanggal 13 Februari 1935 di Johannesburg (LS). Pannekoek merupakan pembimbing dari G.B. van Albada dan memiliki peran yang besar bagi astronomi di Indonesia.
10966 van der Hucht / 3308 T-1
Ditemukan 26 Maret 1971 oleh C. J. van Houten, I. van Houten-Groeneveld dan T. Gehrels. Karel A. van der Hucht adalah astronom di Space Reserach Center Utrecht dan bekerja aktif dalam kajian bintang Wolf-Rayet dan menyusun Catalogue of Galactic Wolf-Rayet Stars. Saat ini ia menjabat sebagai penasehat dalam Komite Eksekutif IAU.11431 Karelbosscha / 4843 T-1
Ditemukan pada tanggal 13 Mei 1971 oleh pasangan suami istri C. J. van Houten dan I. van Houten-Groeneveld di Leiden berdasarkan plat foto obyek planet minor yang diambil oleh T. Gehrels di Palomar Observatory. Asteroid ini dinamakan berdasarkan nama Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928), seorang pengusaha kebun teh Belanda di Malabar, Jawa Barat yang bersama-sama dengan keponakannya Rudolf Albert Kerkhoven memberikan kontribusi besar pada pembangunan observatorium di Lembang. Di Indonesia, nama Bosscha selain digunakan sebagai nama observatorium juga digunakan pada nama salah satu ruang kuliah di Program Studi Fisika. Selain itu, Bosscha dan Kerkhoven dalam kaitanLeids Kerkhoven-Bossca Fonds masih memberikan bantuan bagi kelangsungan riset astronomi di Indonesia.11432 Kerkhoven / 1052 T-2
Ditemukan tanggal 29 September 1973 oleh pasangan suami istri C. J. van Houten dan I. van Houten-Groeneveld di Leiden berdasarkan plat foto obyek planet minor yang diambil oleh T. Gehrels di Palomar Observatory. Rudolf Albert Kerkhoven (1879 – 1940) merupakan salah seorang tokoh Belanda yang memberikan kontribusi bagi pendirian dan keberlangsungan Observatorium bosscha di Lembang bersama sang paman Karel Albert Rudolf Bosscha. Warisannya sampai saat ini masih mendukung riset Astronomi di Indonesia dan Belanda di bawah bendera Leids kerkhoven-Bossca Fonds, yang memberikan bantuan dana bagi kebutuhan riset dan pendidikan astronomi di Indonesia.
Nama asteroid berdasarkan nama tempat di Indonesia maupun yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia adalah :
536 Merapi / 1904 OF
Ditemukan 11 Mei 1904 oleh G. H. Peters di Washington dan dinamai berdasarkan nama gunung Merapi / Marapi Sumatera Barat yang merupakan situs ekspedisi dari US Naval Observatory dan beberapa ekspedisi lainnya saat melakukan pengamatan gerhana Matahari tanggal 17 Mei 1901. Gunung ini mengeluarkan asap secara kontinyu / terus menerus dan namanya sendiri berarti “with fire / dengan api”. Nama Merapi diajukan oleh penemu asteroid 536 Merapi yang juga salah satu anggota ekspedisi Gerhana Matahari di Sumatera.731 Sorga / 1912 OQ
Ditemukan 15 April 1912 oleh A. Massinger di Heidelberg dan dinamai Sorga yang berasal dari bahasa Indonesia Surga. Surga di Bumi disebut juga Surga dunia.732 Tjilaki / 1912 OR
Ditemukan 15 April 1912 oleh A. Massinger di Heidelberg dan dinamai Tjilaki / Cilaki dari nama sungai dan desa Tjilaki / Cilaki yang berasal dari gunung Malabar. Tji artinya sungai.754 Malabar / 1906 UT
Ditemukan 22 Agustus 1906 oleh August Kopff di Heidelberg. Dinamakan berdasar nama pegununungan Malabar di Daerah Malabar yang terkenal sebagai perkebunan teh. Nama ini diambil untuk mengenang ekspedisi Gerhana Matahari yang dilakukan oleh belanda dan Jerman ke Kepulauan Christmas tahun 1922.770 Bali / 1913 TE
Ditemukan 31 Oktober 1913 oleh A. Massinger di Heidelberg. Nama Bali merupakan nama daerah di Indonesia yang mayoritas beragama Hindu. Bali dalam nama asteroid ini didedikasikan pada nama Raja klan Daityas dalam Puranas Hindu.772 Tanete / 1913 TR
Ditemukan 19 Desember 1913 oleh A. Massinger di Heidelberg dan dinamakan Tanete berdasarkan nama tempat di Sulawesi, Indonesia.863 Benkoela / 1917 BH
Ditemukan 9 Februari 1917 oleh M. Wolf di Heidelberg dan dinamakan Benkoela dan diperkirakan nama tersebut merupakan nama kota Benkoelen (Bengkulu) yang ada di Sumatera, Indonesia.2307 Garuda / 1957 HJ
Asteroid di Sabuk Utama Asteroid yang ditemukan pada tanggal 18 April 1957 di Observatorium La Plata. Diyakini nama ini sebenarnya terkait dengan nama India. Garuda yang diajukan sebagai nama asteroid 1957 HJ berasal dari Bahasa Sansekerta dan merupakan putra Kasyapa dan Vinata dalam mitologi India.7172 Multatuli / 1988 DE2
Ditemukan 17 februari 1988 oleh E. W. Elst di European Southern Observatory. Dinamai dengan nama penulis terkenal dari Belanda, Multatuli atau Eduard Douwes Dekker (1820-1887). Di tahun 1838, Multatuli datang di Hindia Belanda dan di tahun 1856 ia mengundurkan diri dari posisi Assistant Commissioner of Lebak Java karena tidak adanya dukungan oleh pemerintah (Belanda -red) dalam perjuangannya untuk melindungi orang jawa dari eksploitasi majikan mereka. Ia kemudian kembali ke eropa dan dikenal secara internasional karena novelnya Max Havelaar (1860) yang kemudian membawa Multatuli untuk melakukan pembelaan dan menuntut keadilan di Jawa dan menyindir mental bangsa Belanda kelas menengah. Nama Multatuli diajukan oleh sang penemu asteroid dan didukung oleh C.F. Merks dan J. Meeus.
Penamaan Asteroid sendiri membutuhkan waktu panjang karena pada awal ditemukan ia hanya diberi kode khusus dan diberi nomer jika orbitnya diketahui dengan baik. Pengajuan nama yang dilakukan oleh si penemu akan dibahas oleh IAU dan disetujui dahulu sebelum diberi nama yang resmi.
Langganan:
Postingan (Atom)