Sabtu, 01 Oktober 2011

Planet Batuan Lahir Dari Planet Gas Raksasa?


Awal 2011,  teleskop landas angkasa Kepler mengumumkan penemuan 1200 kandidat planet baru dengan satu per empat di antaranya merupakan planet Super Bumi.
Penemuan tersebut memicu keingintahuan para astronom terkait bagaimana planet super Bumi itu bisa terbentuk.  Diduga, planet batuan terbentuk dari kegagalan pembentukan obyek gas raksasa seukuran Jupiter.
Pembentukan Planet
Planet super Bumi diduga terbentuk dari planet Jupiter yang gagal terbentuk. kredit : NASA
Bagaimana planet terbentuk? Berdasarkan teori pembentukan planet yang diterima secara umum, planet terbentuk melalui sebuah metode yang dikenal sebagai akresi inti.
Berdasarkan teori akresi, bintang yang baru terbentuk akan memiliki selubung gas dan debu. Di dalam selubung tersebut butiran-butiran debu yang ada akan saling mengikat dan menyatu untuk membentuk obyek yang lebih besar dan dikenal dengan nama planetesimal.
Planetesimal yang ada terbentuk kemudian saling bertabrakan dan bersatu membentuk kumpulan materi yang lebih besar dan lebih besar lagi. Ketika gumpalan materi yang terbentuk itu mencapai massa kritis, gravitasinya akan menarik gas yang ada di piringan di sekitarnya untuk bergabung.
Teori Penyusutan Pasang Surut
Piringan gas dan debu lokasi pembentukan planetesimal. kredit : NASA/ JPL-Caltech/ T. Pyle (SSC)
Sergei Nayakshin dari Universitas Leichester di Inggris musim panas lalu mengajukan teori lain terkait pembentukan planet.  Ia menyebutnya “tidal downsizing” (penyusutan akibat pasang surut), yang bekerja pada kecepatan yang lebih cepat.
Dalam teori penyusutan pasang surut, pertama-tama piringan gas membentuk gumpalan gas masif lebih jauh dari lokasi ditemukannya planet-planet saat ini di Tata Surya. Gumpalan ini kemudian mengalami pendinginan dan mulai berkontraksi menjadi planet yang sangat masif (~10 massa Jupiter).  Selama kontraksi, butir-butir debu akan bertumbuh ke ukuran yang besar dan kemudian runtuh ke pusat gumpalan gas membentuk inti padat yang masif – protoplanet batuan yang sangat masif dalam kepompong gas.
Setelah inti terbentuk, ia akan mulai membentuk atmosfer di sekelilingnya dan didominasi oleh hidrogen tapi juga lebih kaya senyawa kimia dibanding materi debu primordial.  Semakin masif inti batuan planet yang terbentuk, atmosfer di sekelilingnya juga semakin masif dan terus bertumbuh seiring waktu. Dalam suatu rentang waktu perpaduan tersebut akan menghasilkan planet gas raksasa dengan inti padat di dalamnya dan membentuk super-Jupiter.
Setelah super-Jupiter terbentuk, piringan disekelilingnya akan mendorong si planet mendekati bintang dan pada saat itu lapisan terluar yang berupa selubung gas akan mulai terganggu dan kemudian dilahap oleh bintang induknya.
Jika menilik teori yang diajukan Nayakshin, planet super-Bumi dan planet batuan lainnya merupakan inti dari proto-planet masif yang tidak sempat berkembang dan sebagian besar gasnya  dikonsumsi bintang induk. Inti batuan dan atmosfer dekat bisa selamat dari proses makan-memakan dari si bintang induk karena memiliki kerapatan lebih tinggi.
Inti yang tersisa tersebut merupakan planet batuan dengan massa dari 0 – 10 massa Bumi. Dengan demikian, si planet batuan yang masif ini bisa berada dekat dengan bintang inti atau lebih jauh lagi di area yang dikenal sebagai area laik huni.
Zona laik huni merupakan area di sekitar bintang yang dapat mempertahankan air di permukaan planet tetap dalam wujud cair. Planet yang berada di wiayah tersebut diyakini memiliki kemampuan untuk mempertahankan kehidupan jika ada kehidupan yang tumbuh di dalamnya,
Penyusutan Pasang Surut di antara teori lainnya
Aaron Boley dari Universitas Florida yang melakukan penelitian mengenai pembentukan planet gas raksasa dan evolusi piringan pembentukan planet juga melakukan penelitian terkait teori serupa dengan Nayakshin.
Menurut Aaron Boley, jika planet terbentuk menurut teori gangguan pasang surut, planet juga akan dapat terbentuk dalam sistem yang tidak cocok dengan mekanisme akresi seperti misalnya pada piringan dengan sejumlah kecil debu.  Ia meyakini kalau pembentukan planet itu melibatkan juga akresi yang memulai terbentuknya planet dan gangguan pasang surut yang mempengaruhi evolusinya. Menurut Boley, gangguan pasang surut menyebabkan planet bisa mendukung evolusi kehidupan di berbagai sistem bintang. Itu adalah salah satu cara alam untuk membentuk planet. Semakin banyak planet artinya semakin banyak kesempatan bagi kehidupan untuk tumbuh dan berkembang.
Sebagai teori baru, Nayakshin menyadari masih banyak detil perhitungan yang harus dilakukan. Karena itu ia membutuhkan bantuan dari astronom lainnya untuk menguji teorinya.  Teori yang diajukan Nayakshin juga merupakan tantangan bagi teori pembentukan planet dari ketidakstabilan gravitasi.
Teori ketidakstabilan gravitasi memperkenankan terjadinya pembentukan planetesimal dalam waktu yang sangat cepat pada jarak yang jauh dari bintang. Masalahnya, teori ini tidak dapat mengijinkan terjadinya migrasi planet ke dalam. Artinya, ia tidak dapat menjelaskan keberadaan planet-planet dekat yang ditemukan saat ini.
Model penyusutan pasang surut dan akresi inti merupakan dua mekanisme yang bisa membentuk berbagai macam planet dan bisa terjadi pada tahap yang berbeda di sepanjang masa hidup piringan proto-planet dan tidak eksklusif.
Model akresi inti mengalami masa sulit terkait pembentukan planet di orbit jauh dalam rentang waktu panjang.  Ketidakstabilan gravitasi akan menyebabkan planet-planet itu keluar dan mereka akan tetap diluar kecuali planet-planet itu bermigrasi ke dalam. Dengan teori penyusutan pasang surut planet-planet yang terbentuk jauh akan segera bermigrasi agar selubungnya bisa dikonsumsi oleh pasang surut si bintang menyisakan planet batuan.
Tapi untuk bisa diterima, teori penyusutan pasang surut akan melewati pengujian panjang dan harus bisa menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dan harus berhadapan dengan teori lainnya.

Fakta-fakta Menarik Tentang Pluto

Pluto_system_2006
PLUTO yang juga dikenal dengan nama Pluto 134340 adalah sebuah planet kerdil dalam sistem Tata  Surya Bimasakti. Letak Pluto berada dalam sebuah wilayah terluar Tata Surya yang bernama Sabuk Kuiper. Sabuk Kuiper sendiri adalah sebutan untuk wilayah di luar orbit planet Neptunus hingga jarak 50 Satuan Astronomi (SA/1 Satuan Astronomi = jarak rata-rata Matahari-Bumi, yakni sekitar 149,6 juta kilometer) dari Matahari. Pluto memiliki orbit yang unik saat mengelilingi matahari, orbitnya berbentuk melonjong dan kisaran jaraknya sekitar 4,4 - 7,4 miliar km dari Matahari. Berbeda dengan planet-planet lainnya di Tata Surya, Pluto cenderung bergerak mendekati Matahari saat melakukan perjalanan orbit. Akibatnya, terkadang Pluto berjarak lebih dekat dengan Matahari (atau Bumi) daripada Neptunus. 

Di antara obyek-obyek yang ada dalam Tata Surya, Pluto adalah yang terkecil baik dalam ukuran maupun jumlah masa. Pluto bahkan lebih kecil daripada 7 bulan di tata surya, (Bulan, Io, Europa, Ganymede, Calisto, Titan, dan Triton). Pluto memiliki diameter 4.862 km dan memiliki massa 0,002 massa Bumi. Periode rotasi Pluto adalah 6,39 hari, sedangkan periode revolusi adalah 248,4 tahun. Bentuk Pluto mirip dengan Bulan dengan atmosfer yang mengandung metan. Suhu permukaan Pluto berkisar -233o Celsius sampai dengan-223o Celsius, sehingga sebagian besar berwujud es. Seperti sejumlah planet Tata Surya lain, Pluto juga mempunyai beberapa bulan/satelit yang mengitarinya. Bulan-bulan itu adalah: Charon (ditemukan oleh astronom James Christy pada tahun 1978), Nix dan Hydra (keduanya ditemukan pada tahun 2005)  

Penemuan Pluto 

Proses penemuan Pluto sebenarnya diawali dengan kekeliruan interpretasi sejumlah astronom yang mendapati adanya kekacauan dalam orbit Uranus. Semula mereka berasumsi bahwa Neptunuslah yang mengacaukan orbit Uranus karena tarikan gravitasinya. Di akhir abad 19, setelah melakukan observasi lanjutan, para astronom berpendapat bahwa ada planet lain selain Neptunus yang mengganggu orbit Uranus. 

Pada tahun 1905 seorang astronom AS, Percival Lowell, memulai proyek pencarian planet ke-sembilan dalam sistem Tata Surya. Lowell bersama rekannya, William H. Pickering, mengajukan beberapa konsep koordinat planet ke-sembilan dalam Tata Surya yang mereka namakan “Planet X”. Lowell meninggal pada tahun 1916, akan tetapi proyek pencariannya tetap dilanjutkan. Nama Lowell diabadikan sebagai nama observatorium yang didirikannya pada tahun 1894. 

Pada bulan Januari 1930, Clyde Tombaugh, seorang peneliti yang juga anggota tim proyek pencarian planet ke-sembilan dalam Tata Surya di Observatorium Lowell, berhasil mencitrakan beberapa pergerakan sebuah obyek misterius di luar angkasa. Tim peneliti dalam proyek tersebut berkesimpulan bahwa obyek luar angkasa itu adalah sebuah planet dan untuk memastikannya mereka kemudian mengirim hasil pencitraan obyek luar angkasa itu ke Observatorium Harvard College untuk diteliti lebih lanjut. 

Setelah dipastikan bahwa obyek yang ditemukan itu adalah sebuah planet, Tombaugh dan ketua tim peneliti, Vesto Melvin Slipher, menggelar sayembara untuk mencarikan nama bagi planet ke-sembilan itu. Nama Pluto dicetuskan oleh Venetia Burney, seorang anak perempuan umur sebelas tahun asal Oxford, Inggris. Venetia yang gemar mempelajari mitologi Yunani Kuno dan astronomi pertama kali mengusulkan nama ini pada kakeknya, Falconer Madan, mantan pustakawan di Universitas Oxford, Inggris. Madan kemudian meneruskan usul cucunya ini pada Profesor Herbert Hall Turner yang kemudian meneruskannya lagi pada rekan-rekannya di Amerika. 

Setelah melalui proses penyeleksian, pada 24 Maret 1930, tim peneliti di Observatorium Lowell berembuk untuk menentukan mana di antara 3 nama berikut yang akan dijadikan nama planet baru itu yaitu: “Minerva”, “Cronus”, dan “Pluto”. Akhirnya, pada 1 Mei 1930, tim memutuskan nama planet baru itu adalah “Pluto”. 

Eksplorasi ke Pluto 

Sejauh ini eksplorasi ke Pluto menjadi tantangan besar bagi sejumlah negara adikuasa yang telah memiliki pesawat ulang-alik luar angkasa. Bukan hanya karena Pluto berjarak sangat jauh dari bumi namun juga karena Pluto hanya memiliki massa yang kecil dan suhunya sangat dingin. Hingga penghujung abad 20 belum ada upaya serius dari negara-negara adikuasa untuk melakukan misi perjalanan ke Pluto. Bahkan di tahun 2000, Badan Antariksa AS (NASA) membatalkan misi Pluto Kuiper Express karena alasan dana. 

Namun setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya misi perjalanan ke Pluto dicanangkan kembali oleh pemerintah AS pada 2003. Misi perjalanan yang menggunakan pesawat tanpa awak ini diberi nama “New Horizons”. New Horizons telah sukses diluncurkan pada tanggal 19 Januari 2006. Pesawat ini dilengkapi dengan sejumlah peralatan kendali jarak jauh untuk mengenali citra geologi dan morfologi Pluto bersama satelitnya, Charon, memetakan komposisi permukaannya, dan menganalisa atmosfirnya. Selain itu juga New Horizons akan memotret permukaan Pluto dan Charon. Uniknya, dalam pesawat canggih ini juga disertakan abu jenazah sang penemu Pluto, Clyde Tombaugh (meninggal tahun 1997). Sayangnya, New Horizons diperkirakan baru akan mendekati orbit Pluto nanti pada tahun 2015. Setelah itu, barulah para ilmuwan NASA bisa mengungkap lebih jauh tentang misteri planet ‘mungil’ ini. 

Pluto bukan planet? 

Bagaimanapun, sejak tahun 2006 Pluto sudah tidak lagi dikategorikan sebagai planet inti dalam sistem Tata Surya oleh Himpunan Astronomi Internasional (IAU). Karena sejak penemuannya pada tahun 1930 hingga pada 2006 telah ditemukan sejumlah obyek lain di bagian terluar Tata Surya yang komposisinya serupa dengan Pluto, salah satunya yaitu Eris yang mempunyai massa 27% lebih padat daripada Pluto. Pluto kini hanya digolongkan dalam planet-planet minor atau kerdil (dwarf planet) bersama dengan Eris dan Ceres dan diberi nomor 134340. 

Kepler-19c, Dunia Baru Yang Tak Terlihat


Apa jadinya kalau kita terlambat hanya 5 menit ? Bisa jadi kita sudah ditinggal pergi atau tidak lagi mendapatkan tiket pertunjukkan atau malah kehilangan pekerjaan. Akhirnya hanya sesal yang tersisa. Tapi kalau planet terlambat melintas 5 menit saja bukannya penyesalan yang di dapat, tapi justru membuat para astronom bahagia karena ia mengindikasikan ada sesuatu yang membuat dia terlambat datang. Artinya lagi… kemungkinan ada planet lain di dekatnya.
Planet Yang Tersembunyi
Itulah yang terjadi dengan planet yang sedang diamati Kepler. Planet ini kadang datang terlambat atau malah terlalu cepat karena ada “dunia tak terlihat” yang mengganggu dirinya. Inilah planet tak terlihat pertama yang dideteksi dengan cara ini. Belum pernah ada teknik pengamatan extrasolar planet lainnya yang bisa menemukan pasangan tak terlihat sebelumnya.
Ilustrasi exoplanet Kepler-19c. Kredit : David A. Aguilar (CfA)
Planet yang tidak tampak ini sepertinya memang ingin juga untuk bisa dikenal oleh pengamat di Bumi. Ia memperkenalkan dirinya dengan cara yang cukup menarik yaitu dengan mempengaruhi planet yang sedang diamati. Seperti seseorang yang iseng untuk membunyikan bel di depan pintu dan menghilang. Dan si pemilik rumah meskipun tak menemukan siapapun di depan pintu ia tau pasti seseorang ada disana.
Kedua exoplanet baik yang tampak maupun yang tidak tampak tersebut bergerak mengelilingi bintang serupa Matahari yang dinamai Kepler-19. Bintang ini berada 650 tahun cahaya dari Bumi di rasi Lyra dan ia bisa nampak dari teleskop yang digunakan oleh astronom amatir karena kecerlangan bintangnya “hanya” 12 magnitudo. Kepler-19 bisa dilihat di malam bulan September.
Kepler dalam pekerjaannya mendeteksi planet dengan melihat bintang yang kecerlangannya berkedip atau pada suatu waktu “sedikit lebih redup” ketika ada planet yang lewat di antara bintang dan pengamat. Dengan mengamati peristiwa transit, planet yang ditemukan juga bisa dketahui ukuran fisiknya. Karena semakin besar kedipan yang dibuat pada cahaya si bintang maka semakin besar pula si planet relatif terhadap bintang. Tapi untuk bisa melihat peristiwa transit, bintang dan planet harus berada pada satu garis dari arah pandang pengamat.
Kepler-19b & Kepler-19c
Planet pertama di sistem ini, Kepler-19b akan melintas di depan bintang induknya setiap 9 hari dan 7 jam dari jarak 13,5 juta km. Dari jarak yang bahkan lebih dekat dari jarak Matahari – Merkurius, Kepler-19b tentunya mengalami pemanasan dan temperaturnya pun mencapai 482 ÂșC.  Dan bila dibanding dengan Bumi, ukuran Kepler-19b 28.968 km atau 2 kali lebih sedikit dari ukuran Bumi. Bisa dibilang planet Kepler-19b tergolong planet neptunus mini untuk ukuran namun sayangnya para astronom masih belum mengetahui massa dan komposisi si planet.
Ketika sebuah planet mengitari bintangnya ia tidak pernah terlambat seperti gerak jam. Ia akan berada di posisi yang sama yang dilihat pengamat tepat setelah 1 putaran ia jalani. Tapi yang terjadi, planet ini tidak tepat waktu. Kadang 5 menit lebih cepat namun ada saatnya 5 menit lebih lambat. Perubahan waktu transit seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan, karena hal itu bisa terjadi kalau ada gravitasi benda lain yang mengganggu Kepler-19b menyebabkan ia semakin cepat atau malah melambat.
Dari sejarah penemuan planet, Neptunus memiliki kemiripan saat ditemukan. Pada saat Uranus ditemukan, astronom melihat ada ketidakcocokan dalam orbit yang seharusnya dimiliki Neptunus. Saat itu mereka menyadari ada planet lain yang lebih jauh yang mengganggu orbit Uranus. Setelah dihitung ditemukanlah planet yang tidak terlihat itu. Dan kemudian ketika teleskop diarahkan ke langit pada area prediksi keberadaan planet ke-8, Neptunus memang ada disana. Metode yang sama masih menjanjikan untuk digunakan dalam mencari planet-planet yang tak terlihat di masa kini yang tentunya dibantu oleh hasil pengamatan. Dalam hal ini untuk melihat gangguan yang ia timbulkan pada planet yang bisa diamati.
Lantas seperti apakah si pengganggu planet Kepler-19b? Astronom masih belum bisa mengetahui apapun tetang planet yang tidak tampak itu selain keberadaannya. Planet ini terlalu kecil untuk bisa mengganggu bintang induknya sehingga para pengamat bisa mengetahui massanya. Selain itu Kepler juga belum melihat planet asing ini melintas di depan bintang induknya. Artinya, ada kemungkinan orbit si planet memiliki kemiringan relatif terhadap Kepler-19b.
Kepler-19c atau planet kedua di bintang Kepler-19 saat ini memiliki beberapa kepribadian. Ia diduga merupakan planet batuan dengan orbit sirkular dimana ia memiliki periode orbit 5 hari atau bisa juga ia merupakan planet gas raksasa dengan periode orbit 100 hari. Kepler akan terus memantau Kepler-19 dalam misinya. Selain itu pengamatan menggunakan instrumen HARPS-North diharapkan dapat mengetahui massa Kepler-19c.

Status Exoplanet Fomalhaut b Diragukan


Penemuan planet-planet baru terus bertambah dan ada juga yang masih menunggu konfirmasi keberadaannya. Kebanyakan planet-planet tersebut tidak dilihat langsung melainkan ditemukan dari berbagai metode tidak langsung. Jadinya jika ada satu yang statusnya meragukan tidak akan menjadi masalah. Berbeda dengan exoplanet Fomalhaut b. 
Apa bedanya ?
Fomalhaut b
Ilustrasi planet Fomalhaut b. Kredit : ESA, NASA, and L. Calcada (ESO for STScI)
Exoplanet Fomalhaut b memiiki kisah yang berbeda ketika ditemukan. Ia adalah planet pertama yang ditemukan dari pengamatan langsung pada panang gelombang tampak di tahun 2008.  Planet tersebut tampak sebagai titik yang sedang mengitari bintang Fomalhaut yang berjarak 7,7 parsek dari Tata Surya.  Ia mengitari bintang Fomalhaut yang berusia 200 juta tahun setiap 872 tahun.
Yang jadi masalah adalah identitas Fomalhaut b ini dipertanyakan setelah data yang dipaparkan dalam konferensi exoplanet di Grand Teton National Park, Wyoming, menunjukkan kalau obyek Fomalhaut b itu sudah pindah dengan cara yang mengejutkan.
Fomalhaut b merupakan satu-satunya exoplanet yang bisa dipotret secara langsung. Dua citra planet Fomalhaut b yang diambil oleh Teleskop Hubble pada tahun 2004 dan 2006 digunakan untuk menunjukkan bagaimana Fomalhaut b bergerak pada orbit yang berada tepat di dalam cincin debu terang yang mengelilingi Fomalhaut. Implikasinya gravitasi planet membantu untuk menyapu bersih debu yang lebih dekat dari cincin sehingga membentuk bagian dalam cincin jadi tajam.
Menurut Paul Kalas, astronom dari University of California, Barkeley, citra terakhir Fomalhaut b menunjukkan kalau orbit planet ini melintas ke dalam piringan debu. Kejanggalan orbit itulah yang membuat Ray Jayawardhana dari University of Toronto mempertanyakan keberadaan planet Fomalhaut b. Dengan lintasan seperti itu, pengaruh gravitasi planet akan mengganggu piringan yang tadinya tampak jelas.
Kontroversi Yang Muncul
Data terakhir itu memang membingungkan namun Kalas masih yakin kalau Fomalhaut b merupakan sebuah planet.  Perdebatan pun muncul mengenai status Fomalhaut b.
Fomalhaut b sudah dikenal sebagai bola aneh di antara exoplanet. Kecerlangannya terllau cerlang dalam cahaya tampak untuk sebuah benda yang hanya dperkirakan beberapa kali Jupiter. Selain itu pengamatan lanjutan dengan teleskop landas bumi pada panjang gelombang inframerah tidak membuahkan hasil. Padahal itu merupakan bagian dari spektrum dimana planet yang masih muda dan panas seharusnya tempak sangat cerlang.
Cincin debu di sekitar Fomalhaut yang dipotret Hubble. Kredit : NASA, ESA, P. Kalas, J. Graham, M. Clampin
Mengapa ini bisa terjadi? Kalas memberi penjelasan kalau sistem Fomalhaut jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya sehingga ia lebih dingin dan lebih redup pada panjang gelombang inframerah. Selain itu kecerlangan optik yang berlebihan dapat juga dijelaskan jika planet dikelilingi oleh material yang terang, seperti halnya Saturnus yang dikelilingi sistem cincin yang meningkatkan kemampuan untuk memantulkan cahaya.
Di sisi lain, Ray Jayawardhana justru meyakini bahwa exoplanet ini harusnya tidak lagi disebut planet yang dideteksi lewat pencitraan secara langsung karena cahaya yang diterima itu datangnya dari debu dan bukan permukaan planet.
Data terbaru yang juga menunjukan orbit exoplanet yang memotong piringan debu menjadi misteri baru bagi para penemunya. Meski demikian, Kalas masih meyakini kalau ada masalah lain degan citra terakhir yang diambil. Foto-foto di tahun 2004 dan 2006 diambil menggunakan saluran beresolusi tinggi Hubble’s Advanced Camera for Surveys. Kamera ini mengalami kerusakan pada tahun 2007 dan tidak diperbaiki saat kamera dinyalakan kembali pada tahun 2009.
Citra terakhir diambil menggunakan instrumen lainnya dari Hubble yakni Space Telescope Imaging Spectrograph. Menurut Kalas, pergantian instrumen bisa menjadi alasan mengapa ada deviasi planet dari posisi yang diharapkan.  Untuk itu, Kalas akan melakukan pemotretan lagi dengan instrumen yang sama pada musim panas berikutnya.
Jika gerak planet yang tidak diharapkan itu tetap berlangsung, masih ada kemungkinan untuk menjelaskan mengapa piringan di sekitar bintang tidak terganggu. Bisa jadi exoplanet Fomalhaut b yang mereka amati sedang berada dalam ketidakstabilan dinamis dalam sistem bintangnya.
Persaingan Yang Berlanjut
Christian Marois dari Herzberg Institute of Astrophysics di Victoria, Canada tidak menyukai adanya argumentasi yang hanya berbasiskan kebetulan. Dengan periode orbit sekitar 800 tahun, Fomalhaut b seharusnya sudah mengalami perubahan orbit baru-baru ini.
Bagi Marois, Kalas sepertinya “menyesuaikan” analisanya mengacu pada perbedaan instrumen yang ia gunakan di Hubble dan mengindikasikan kalau orbit planet Fomalhaut b tidak berubah.  Apapun itu, fakta kalau Kalas melihat keberadaan Fomalhaut b pada tahun 2010 “sudah merupakan konfirmasi kalau planet itu memang ada disana”.
Tapi tampaknya perdebatan sekaligus persaingan di antara Kalas dan Jayawardhana terus berlangsung.  Pada tanggal 22 September, situs exoplanet,eu menambahkan komentar kalau Fomalhaut b saat ini sedang diperdebatkan keberadaannya. Hal ini tampaknya membuat Kalas kemudian megirimkan surat elektronik pada Jean Schneider pengelola situs tersebut kalau ia juga harus menyebutkan bahwa ada keraguan akan keberadaan 1RXJ1609.
Exoplanet 1RXJ1609 merupakan planet yang dipotret secara langsung pada panjang gelombang inframerah dimana Ray Jayawardhana juga menjadi salah satu penemunya dan diumumkan tahun 2008 beberapa bulan sebelum Fomalhaut b diumumkan.
Apapun itu, tampaknya Fomalhaut b lebih tahu apa  yang ia lakukan meskipun tidak ada seorang pun yang tahu.